WhatsApp
Berita & Artikel

Berita & Artikel

Kumpulan berita dan artikel terbaru terkait HKI, merek, paten, dan pengembangan bisnis.

 
 

Temukan Berita & Artikel

Ketika Persepsi Pasar Berubah dan Tumbangnya Raksasa Brand Dunia

25 - May - 2026
Ketika Persepsi Pasar Berubah dan Tumbangnya Raksasa Brand Dunia

 

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H.

Tidak sedikit merek besar dunia yang pada masanya pernah dianggap terlalu kuat untuk dikalahkan. Nama-nama tersebut bukan hanya mendominasi pasar, tetapi juga membentuk budaya konsumsi, simbol status sosial, hingga identitas generasi tertentu. Namun sejarah bisnis memperlihatkan bahwa kekuatan brand sebesar apa pun tetap dapat mengalami kemunduran ketika perusahaan gagal memahami perubahan psikologi pasar dan arah pergeseran perilaku manusia.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuatan sebuah brand tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, kualitas produk, ataupun panjangnya sejarah perusahaan. Dalam banyak kasus, ancaman terbesar justru muncul ketika perusahaan gagal memahami perubahan psikologi pasar. Di era ekonomi persepsi saat ini, konsumen bergerak jauh lebih cepat dibanding ritme adaptasi perusahaan besar.

Salah satu contoh paling terkenal dapat terlihat pada Kodak. Selama puluhan tahun Kodak dikenal sebagai simbol dominasi fotografi dunia. Ironisnya, perusahaan tersebut sebenarnya termasuk pihak yang lebih awal mengembangkan teknologi kamera digital. Namun Kodak mengalami apa yang dalam teori bisnis sering disebut sebagai innovator’s dilemma, yakni kondisi ketika perusahaan besar takut melakukan perubahan karena khawatir inovasi baru justru akan merusak sumber pendapatan lama yang selama ini menopang kejayaannya sendiri.

Kodak terlalu lama mempertahankan bisnis film fotografi konvensional karena merasa model bisnis tersebut masih sangat kuat. Akibatnya, ketika dunia mulai berpindah menuju era digital secara massal, Kodak kehilangan momentum strategis. Kasus ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar sebuah brand besar kadang bukan berasal dari kompetitor eksternal, melainkan dari resistensi internal perusahaan terhadap perubahan.

Hal serupa terlihat pada Nokia. Pada masanya, Nokia bukan sekadar produsen telepon seluler, tetapi telah berubah menjadi simbol dominasi teknologi global. Namun ketika era smartphone mulai berkembang, Nokia terlalu lama membaca industri telekomunikasi sebagai industri perangkat keras semata. Padahal perilaku konsumen telah berubah menuju pengalaman digital, ekosistem aplikasi, integrasi internet, serta user experience yang lebih fleksibel.

Kesalahan Nokia bukan semata karena terlambat membuat smartphone, melainkan karena terlambat memahami bahwa pusat nilai pasar telah bergeser. Konsumen tidak lagi membeli perangkat hanya berdasarkan kualitas hardware, tetapi berdasarkan pengalaman digital yang mereka rasakan sehari-hari. Dalam konteks branding strategy, kasus Nokia memperlihatkan bahwa loyalitas konsumen tidak pernah bersifat permanen. Loyalitas dapat berubah sangat cepat ketika brand gagal mempertahankan relevansi pengalaman.

Kasus BlackBerry bahkan lebih menarik jika dilihat dari perspektif psikologi sosial. Pada periode tertentu, BlackBerry bukan hanya alat komunikasi, tetapi telah berubah menjadi simbol identitas profesional dan prestise sosial. Memiliki BlackBerry pada masa itu sering diasosiasikan dengan status modern, eksklusivitas, dan kelas bisnis.

Namun ketika budaya digital mulai bergerak menuju layar sentuh, fleksibilitas aplikasi, visual interface yang lebih dinamis, serta ekspresi personal melalui media sosial dan aplikasi mobile, BlackBerry terlalu lama percaya bahwa loyalitas konsumennya akan tetap bertahan. Yang runtuh pada akhirnya bukan sekadar perangkat keras BlackBerry, tetapi simbol sosial yang selama ini melekat pada brand tersebut.

Contoh lain yang sangat menarik dapat terlihat pada Yahoo. Pada awal perkembangan internet, Yahoo pernah menjadi salah satu nama terbesar di dunia digital. Namun seiring waktu, identitas brand tersebut perlahan menjadi semakin kabur karena terlalu banyak memasuki berbagai layanan tanpa positioning yang semakin jelas.

Dalam teori branding, kondisi seperti ini sering disebut sebagai brand dilution dan identity fragmentation. Ketika sebuah brand mencoba menjadi segalanya, publik justru semakin sulit memahami sebenarnya brand tersebut ingin dikenal sebagai apa. Akibatnya, diferensiasi mulai melemah dan relevansi pasar perlahan menurun.

Kasus Gap juga memperlihatkan pelajaran penting mengenai kekuatan memori emosional dalam identitas visual. Ketika Gap mengganti logonya secara drastis pada tahun 2010, publik bereaksi sangat negatif hanya dalam waktu singkat hingga perusahaan akhirnya kembali menggunakan logo lama.

Namun tidak semua perubahan identitas visual berakhir negatif. Starbucks justru sering dianggap sebagai contoh keberhasilan evolusi logo yang dilakukan secara bertahap dan terukur. Perusahaan tersebut tidak mengubah identitas visualnya secara mendadak, melainkan melakukan penyederhanaan simbol secara perlahan sambil tetap mempertahankan elemen-elemen psikologis utama yang telah tertanam kuat di dalam memori konsumen. Bahkan ketika tulisan “Starbucks Coffee” akhirnya dihilangkan dari logonya, publik tetap mampu mengenali simbol siren hijau tersebut secara instan.

Dari perspektif branding psychology, keberhasilan Starbucks menunjukkan bahwa kekuatan identitas visual tidak selalu terletak pada estetika semata, melainkan pada kemampuan sebuah simbol membangun resonansi emosional yang selaras dengan psikologi dan karakter pasar yang dituju. Perusahaan tersebut tidak sekadar mempertahankan bentuk visual, tetapi juga menjaga konsistensi asosiasi, suasana, dan “vibrasi” brand yang telah tertanam kuat di dalam benak konsumennya selama bertahun-tahun. Dalam kondisi tertentu, logo bahkan dapat berkembang melampaui fungsi identifikasi merek dan berubah menjadi simbol budaya yang hidup secara mandiri di tengah masyarakat.

Dalam banyak kasus, identitas visual tidak lagi sekadar berfungsi sebagai elemen desain grafis, tetapi merupakan collective emotional memory yang melekat kuat di dalam pikiran konsumen. Karena itu, perubahan visual yang dilakukan secara terlalu mendadak tanpa sensitivitas psikologis berisiko merusak hubungan emosional antara brand dan pasar, terutama apabila perubahan tersebut menghilangkan elemen-elemen lama yang selama ini telah tertanam kuat di benak konsumen, seperti identitas warna, karakter bentuk, maupun pola visual tertentu yang menjadi bagian dari memori kolektif terhadap brand tersebut.

Sementara itu, kasus New Coke sering dianggap sebagai salah satu pelajaran paling penting dalam sejarah branding psychology. Secara rasa, formula New Coke sebenarnya memperoleh hasil cukup baik dalam berbagai pengujian konsumen. Namun Coca-Cola saat itu terlalu percaya pada data kuantitatif hasil blind test dan gagal memahami dimensi emosional yang jauh lebih dalam.

Publik ternyata tidak sekadar membeli rasa minuman. Mereka membeli nostalgia, identitas budaya, memori masa kecil, dan hubungan emosional yang telah terbentuk selama puluhan tahun. Pada titik inilah perusahaan menyadari bahwa kekuatan sebuah brand sering kali melampaui kualitas produk itu sendiri.

Berbagai contoh tersebut memperlihatkan bahwa dalam ekonomi modern, perusahaan sebenarnya tidak hanya bersaing melalui produk, tetapi juga melalui persepsi, relevansi budaya, serta ruang emosional di dalam pikiran manusia. Karena itu, ancaman terbesar sebuah brand besar sering kali bukan muncul ketika kompetitor menjadi lebih kuat, melainkan ketika perusahaan gagal menyadari bahwa cara manusia memaknai dunia telah berubah.

Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa nilai sebuah merek sesungguhnya tidak hanya dibangun melalui kekuatan hukum, tetapi juga melalui relevansi emosional dan psikologis di benak konsumen. Dalam praktik bisnis, perlindungan hukum terhadap merek merupakan fondasi yang sangat penting untuk menjaga eksklusivitas, identitas, serta nilai komersial sebuah brand yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Namun pada saat yang sama, kekuatan hukum tanpa kemampuan mempertahankan relevansi pasar tetap berisiko mengalami penurunan nilai komersial. Sebaliknya, brand yang mampu menjaga keterikatan emosional dengan konsumennya akan memperkuat nilai aset tidak berwujud (intangible asset value) sekaligus memperbesar nilai strategis dari merek yang dilindungi tersebut.

Di era ekonomi persepsi saat ini, brand yang paling kuat bukan selalu brand terbesar, melainkan brand yang paling mampu membaca arah perubahan manusia sebelum perubahan tersebut benar-benar terjadi.

IndoTrademark IP Law & Brand Strategy

dibaca: 65 kali

TAG :

pendaftaran merekmendaftarkan merekcek merekdaftar merekpengacara merekbranding strategy
 

Berita & Artikel Terkait

Berita & Artikel Lainnya

1 2 3 4 5 »
 

Mediasi Pada Pidana Hak Cipta, Menguntungkan Atau Merugikan Korban?

Oleh: Ichwan Anggawirya Hak cipta merupakan hak kekayaan yang bersifat immateriil dan merupakan hak kebendaan. Salah satu sifat atau asas yang melekat pada hak kebendaan adalah asas droit de suite, asas hak mengikuti bendanya. Hak untuk menuntut akan mengikuti benda tersebut secara terus-menerus di tangan siapapun benda itu berada. Perlindungan hak cipta sebagai hak kebendaan...

Pertarungan Dua Mawar Akhirnya Dimenangkan Oleh Wardah

Wardah sebagai pencetus dan penemu pertama formulasi cairan pengharum cucian merek Mawar Super Loundry kini dapat bernafas lega, gugatan pembatalan merek yang telah dimenangkan di tingkat Pengadilan Niaga kini telah inkrah dengan adanya keputusan Mahkamah Agung Nomor 161 K/Pdt.Sus-HKI/2019 yang dalam keputusannya menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi atau yang sebelumnya sebagai pihak...

Ichwan Anggawirya: Audisi Beasiswa Bulutangkis PB Djarum Tidak Mengeksploitasi Anak

Audisi pencarian bakat Bulutangkis yang dilakukan oleh Persatuan Bulutangkis (PB) Djarum sempat menjadi polemik karena adanya komentar yang menyatakan PB Djarum mengeksploitasi anak dengan UU No 35 Tahun 2014.   Praktisi dan pakar HAKI Magister Ilmu Hukum Universitas Bung Karno, Ichwan Anggawirya di forum grup diskusi senin dikampus Magister Ilmu Hukum Universitas Bung Karno,...

Sengketa Merek Mawar Super Laundry

Siti Wardah, pengusaha cairan pembersih untuk laundry pakaian mengajukan gugatan pembatalan merek 'MAWAR SUPER LAUNDRY'. Gugatan itu didaftarkan di Pengadilan Niaga Jakarta. "Klien saya ajukan gugatan pembatalan karena pendaftaran merek dilakukan dengan itikad tidak baik dan tidak jujur," kata kuasa hukum penggugat, Ichwan Anggawirya kepada Gatra.com di Jakarta, Sabtu,...

80 Tahun Sengketa Hak Cipta Lagu "Happy Birthday to You" Berakhir

Los Angeles - Lagu “Happy Birthday to You” mungkin sudah biasa didengar dalam pesta-pesta ulang tahun. Namun, ternyata, di balik itu, terdapat kesangkutmarutan siapa yang berhak memegang hak cipta. Pencipta melodi Mildred Hill bersaudara kah? Yang pertama kali membuat melodi lagu tersebut dengan judul awal 'Good Morning to All' untuk anak-anak TK pada tahun 1889, atau yang...

Sengketa Merek, Perusahaan Kereta Dorong Bayi Jerman Gugat Cybex Lokal

Produsen kereta dorong bayi asal Jerman, Cybex gmbH kaget pendaftaran merek di Indonesia tidak disetujui Kementerian Hukum dan HAM karena sudah ada stroller dengan merek yang mirip dengan merek Cybex. Atas hal itu, langkah hukum pun diambil.   Kasus bermula saat Cybex gmbH mengajukan permohonan pendaftaran merek ke Direktorat Merek Kemenkum HAM pada 19 Juni 2015. Selain di...

Sengketa Merek, Mobil BMW Kalah Lawan Baju BMW dari Penjaringan

Mahkamah Agung (MA) tidak menerima Peninjauan Kembali (PK) perusahaan mobil asal Jerman, BMW. Alhasil, Henrywo Yuwijono kini bernapas lega memproduksi merek baju BMW alias Body Man Wear.   Kasus bermula saat perusahaan Beyerische Motoreen Werke (BMW) Aktiengesellschafft menggugat warga Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara, Henrywo. Perusahaan yang bermarkas di Munich, Jerman...

Lois Spanyol gagal batalkan merek lokal

Jakarta. Pemegang lisensi merek dagang Lois di Indonesia PT Intigarmindo Persada gagal membatalkan merek Newlois dan Redlois milik pengusaha lokal Agus salim setelah Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak gugatannya, Selasa (31/5).   "Mengadili, menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya," ungkap ketua majelis hakim Didiek Riyono dalam amar putusannya. Dalam...

Led Zeppelin Menang Gugatan Hak Cipta Lagu Stairway to Heaven

Grup music legendaris Led Zeppelin memenangi kasus gugatan hak cipta yang dilayangkan terhadap anggota grup band rock asal Inggris itu, setelah juri menolak klaim bahwa petikan gitar pembuka Stairway to Heaven diambil dari band asal AS, Spirit.   Keputusan juri, yang menemukan perbedaan substansial antara Stairway to Heaven dan lagu instrumental Spirit Taurus, diambil setelah...

Dituduh Jiplak "Stairway to Heaven", Led Zeppelin Jalani Sidang di AS

LOS ANGELES, Dua personel grup musik legendaris Led Zeppelin, Jimmy Page dan Robert Plant, akan menghadiri sidang yang digelar pada Selasa (13/6/2016), terkait kasus tudingan "pencurian" lagu ternama, "Stairway to Heaven", yang dilontarkan sebuah grup musik asal AS.   Spirit, grup musik psychedelic asal Los Angeles yang eksis pada masa yang sama dengan Led...

Butuh Konsultasi Gratis?

Tim expert kami siap membantu Anda memilih layanan yang tepat untuk kebutuhan bisnis