Live chat by BoldChat
Layanan cepat dapat melalui WA / Call ke: 0811.966.919 atau 0811.100.719. Proses pendaftaran tetap berjalan seperti biasa
Berita & Artikel

Pancasila, Ibarat Mantra Tanpa Keris

01 - June - 2021

Oleh: Ichwan Anggawirya
 
Pancasila yang merupakan ideologi negara, selain sebagai dasar negara juga memegang peranan penting dalam membentuk karakter atau jiwa bangsa, atau yang istilahnya disebut Volkgeist. Tapi sering kita mendengar bahwa penerapan Pancasila gagal diterapkan, terbukti dengan masih banyaknya korupsi, kesenjangan sosial, pelanggaran hak asasi, kebebasan berpendapat, diskriminasi, bahkan ancaman radikalisme.
 
Seperti dikutip pada Berita Satu, Fadli Zon mengatakan: “Implementasi makna Pancasila dirasakan masih jauh dari harapan. Mulai dari ketimpangan keadilan sosial diantara anak bangsa, hingga masih belum sempurnanya proses penegakan hukum di negeri ini”.
 
Diskusi mengenai penerapan Pancasila inipun sudah sering dilakukan pada forum-forum, tapi disini penulis ingin memberikan saran solusi dari sudut pandang yang berbeda, yang mungkin terlewatkan atau kurang dominan dalam penerapannya.
 
Lalu bagaimana strateginya? Dalam tehnik komunikasi diperlukan focus yang tepat, focus dalam hal ini bukan berarti mengabaikan hal-hal lainnya selain yang di focus-kan, melainkan dapat memformulasikan komposisi elemen mana yang harus lebih dominan dan menjadi sasaran utama.
 
Tentunya semua sepakat bila pemahaman Pancasila untuk membentuk karakter bangsa harus dilakukan sedini mungkin mulai dari tingkat dasar ataupun AUD, sekarang coba tengok pembelajaran dan pemahaman Pancasila yang dilakukan selama ini hanya dominan melalui teks atau verbal, dari tingkat SD anak-anak hanya dicekoki oleh teks Pancasila dan wajib menghafal Pancasila.
 
Sedangkan untuk membentuk karakter anak perlu keseimbangan otak kanan dan otak kiri, teks atau verbal hanya dicerna melalui otak kiri, sedangkan otak kanan bertugas mencerna dalam bentuk visual atau gambar yang bersifat imajinatif. Nah apakah pembelajaran Pancasila selama ini sudah optimal dengan hanya melulu melalui teks atau verbal? Karena itu penulis setuju dihapusnya program P4 karena dianggap hanya bersifat doktrin, tapi harus segera dibuat program baru yang lebih dominan pada pendekatan seni dan budaya, itupun harus dipadukan secara progresif agar tidak membosankan dan tampak lebih segar.
 
Ambil contoh di Amerika, kenapa mereka bisa begitu heroiknya? Karena sejak kecil mereka sudah dicekoki dengan visualisasi melalui fiksi-fiksi tokoh komik, film ataupun animasi, semua sarat dengan visualisasi yang justru konsumsi otak kanan. Amerika menggunakan kekuatan sisi otak kanan ini untuk melakukan propaganda yang sangat efektif, misal malalui film Pearl Harbor ataupun Rambo untuk membangkitkan rasa nasionalisme rakyat Amerika.
 
Untuk pembentukan karakter bangsa, Amerika juga membentuk program pendidikan  yang disebut Positive Behavior Support (PBS), merupakan program jangka panjang dengan membuat slogan maupun tayangan video yang menampilkan perilaku yang seharusnya dan yang tidak seharusnya dilakukan.
 
Kembali pada strategi otak kanan, bahkan kita dapat menarik makna kekuatan sisi otak kanan ini seperti yang banyak terkutip dalam kitab suci, misalnya dalam Islam yang mengatur segala aspek kehidupan, bahkan dari hal-hal terkecil dan terkesan sepele sekalipun. Salah satu yang diperhatikan dalam kehidupan keseharian adalah sunnah untuk mendahulukan bagian kanan atau anggota tubuh bagian kanan dalam beraktivitas. Hal demikian dinamakan 'tayamun'.
 
Ataupun dalam Alkitab: “Sekarang aku tahu, bahwa Tuhan memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.” (Mazmur 20:7); "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu maka akan kamu peroleh." (Kis 4:1-12; Mzm 118:22-24; Yoh 21:1-14).
 
Juga dalam Budha ada sikap pencapaian tertinggi (Varada Mudra), yaitu sikap tangan kanan melambangkan berkah dari pencapaian tertinggi.
 
Ya mungkin tidak ada hubungannya secara langsung antara yang dimaksud “kanan” dalam kitab suci dengan pembentukan karakter Pancasila, tapi penulis sekedar ingin memberikan gambaran bahwa ada sisi lain yang belum dioptimalkan agar pembentukan karakter menjadi lebih powerful
 
Sekarang coba lihat kenyataannya, berapa porsi visualisasi pemahaman Pancasila diterapkan? Ada tidak konsep visualisasi yang diterapkan secara serius dan sistematis? Tidak adanya figur imaginer menyebabkan makna "teks" mudah dilupakan. Teks tanpa visualisasi ibarat mantra tanpa keris, saran penulis adalah terapkan visualisasi Pancasila sejak dini, masukkan stimulasi yang lebih dominan pada sisi otak kanan dan kemudian mengalir ke sisi otak kiri sehingga akan sangat efektif dalam pembentukan karakter bangsa untuk tercapainya tujuan Pancasila itu sendiri. 
 
Jika kita menengok kebelakang, bukankah Pancasila tercetus oleh tokoh-tokoh yang semuanya berdarah seni, Mohammad Yamin yang juga seorang sastrawan dan budayawan, Dr. Seopomo memiliki jiwa seni sebagai penari, dan Bung Karno yang tidak diragukan lagi kemampuan dan kecintaannya pada seni. Bung Karno menggunakan seni sebagai media merancang, membangun, dan merawat bangsanya. Patung, monumen, bangunan, lukisan, lagu, dan lain-lain, bahkan Bung Karno pernah mengatakan “untuk menghasilkan seniman setidaknya membutuhkan waktu 75 hingga 100 tahun, sedangkan untuk mencetak insinyur hanya perlu empat tahun saja”. 
 
Selamat Hari Lahir Pancasila, semoga cita-cita Bung Karno dan bangsa Indonesia untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila bukan sekedar jargon semata.
 
*Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H.
Pendiri IndoTrademark.com dan Pakar HKI
Alumni Desain Komunikasi Visual IKJ
Alumni Magister Ilmu Hukum UBK
Kandidat Doktor Ilmu Hukum UNS

dibaca: 1331 kali
tags: membangun merek, pendaftaran merek, merek dagang, branding, karakter, pancasila
 

Berita & Artikel Terkait

Strategy Membuat Dan Mendaftarkan Merek (1)

Oleh: Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H.   Merek adalah identitas dagang baik untuk produk barang maupun jasa yang memiliki hak eksklusif bagi pemilik merek terdaftar. Hak eksklusif inilah yang akan menimbulkan nilai dari suatu merek karena hak eksklusif memiliki kewenangan untuk melarang pihak lain yang menggunakan merek tanpa seizin pemiliknya, sehingga pemilik dapat...

Membangun Dan Mengelola Merek Yang Sukses Dengan Metode HYPNOBRAND

Membangun merek yang unggul akan melalui proses yang panjang dan sangat kompleks, karena tidak hanya bicara tentang produk, tapi juga melibatkan penelitian terhadap target pasar, pesaing, bahkan aspek legal sebagai perangkat perlindungan. Audit merek yang komprehensif dimulai dengan pemahaman yang jelas tentang bisnis dan tujuan strategis merek, kemudian mengidentifikasi semua aspek...

Konsep Merek Rasional VS Emosional, Mana Lebih Unggul?

Efektivitas keberhasilan suatu merek boleh dikatakan sebagian besar karena faktor komunikasi karena merek itu sendiri adalah merupakan alat komunikasi bagi produsen kepada konsumen. Ketika kita mulai mengcreate sebuah merek maka harus menentukan strategi komunikasi yang efektif atau tepat sasaran. Banyak sekali teori maupun teknik komunikasi dalam melakukan kegiatan membangun merek yang...

Tawar Menawar Dalam Pidana Merek

Oleh: Ichwan Anggawirya   Hal yang menjadi ironi di Indonesia dalam perkara pidana pelanggaran merek adalah masih terjadi adanya putusan pidana di bawah satu tahun, meskipun Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis memberikan kewenangan pada hakim pengadilan untuk menjatuhkan sanksi pidana maksimal selama 5 tahun, atau bahkan 10 tahun jika...

Berita & Artikel Lainnya

1 2 3 4 5 »
 

Undang-Undang Hak Cipta, "Kitab Suci" Yang Belum Sempurna

Oleh: Ichwan Anggawirya Secara garis besar karya seni dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu karya seni terapan (applied art) dan karya seni murni (fine art) yang keduanya masuk dalam perlindungan Hak Cipta. Seni Terapan adalah karya seni fungsional yang selain memiliki nilai estetika, juga memiliki nilai praktis untuk dapat digunakan untuk tujuan tertentu. UU Hak Cipta dalam...

Mediasi Pada Pidana Hak Cipta, Menguntungkan Atau Merugikan Korban?

Oleh: Ichwan Anggawirya Hak cipta merupakan hak kekayaan yang bersifat immateriil dan merupakan hak kebendaan. Salah satu sifat atau asas yang melekat pada hak kebendaan adalah asas droit de suite, asas hak mengikuti bendanya. Hak untuk menuntut akan mengikuti benda tersebut secara terus-menerus di tangan siapapun benda itu berada. Perlindungan hak cipta sebagai hak kebendaan...

Pertarungan Dua Mawar Akhirnya Dimenangkan Oleh Wardah

Wardah sebagai pencetus dan penemu pertama formulasi cairan pengharum cucian merek Mawar Super Loundry kini dapat bernafas lega, gugatan pembatalan merek yang telah dimenangkan di tingkat Pengadilan Niaga kini telah inkrah dengan adanya keputusan Mahkamah Agung Nomor 161 K/Pdt.Sus-HKI/2019 yang dalam keputusannya menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi atau yang sebelumnya sebagai pihak...

Ichwan Anggawirya: Audisi Beasiswa Bulutangkis PB Djarum Tidak Mengeksploitasi Anak

Audisi pencarian bakat Bulutangkis yang dilakukan oleh Persatuan Bulutangkis (PB) Djarum sempat menjadi polemik karena adanya komentar yang menyatakan PB Djarum mengeksploitasi anak dengan UU No 35 Tahun 2014.   Praktisi dan pakar HAKI Magister Ilmu Hukum Universitas Bung Karno, Ichwan Anggawirya di forum grup diskusi senin dikampus Magister Ilmu Hukum Universitas Bung Karno,...

Sengketa Merek Mawar Super Laundry

Siti Wardah, pengusaha cairan pembersih untuk laundry pakaian mengajukan gugatan pembatalan merek 'MAWAR SUPER LAUNDRY'. Gugatan itu didaftarkan di Pengadilan Niaga Jakarta. "Klien saya ajukan gugatan pembatalan karena pendaftaran merek dilakukan dengan itikad tidak baik dan tidak jujur," kata kuasa hukum penggugat, Ichwan Anggawirya kepada Gatra.com di Jakarta, Sabtu,...

80 Tahun Sengketa Hak Cipta Lagu "Happy Birthday to You" Berakhir

Los Angeles - Lagu “Happy Birthday to You” mungkin sudah biasa didengar dalam pesta-pesta ulang tahun. Namun, ternyata, di balik itu, terdapat kesangkutmarutan siapa yang berhak memegang hak cipta. Pencipta melodi Mildred Hill bersaudara kah? Yang pertama kali membuat melodi lagu tersebut dengan judul awal 'Good Morning to All' untuk anak-anak TK pada tahun 1889, atau yang...

Sengketa Merek, Perusahaan Kereta Dorong Bayi Jerman Gugat Cybex Lokal

Produsen kereta dorong bayi asal Jerman, Cybex gmbH kaget pendaftaran merek di Indonesia tidak disetujui Kementerian Hukum dan HAM karena sudah ada stroller dengan merek yang mirip dengan merek Cybex. Atas hal itu, langkah hukum pun diambil.   Kasus bermula saat Cybex gmbH mengajukan permohonan pendaftaran merek ke Direktorat Merek Kemenkum HAM pada 19 Juni 2015. Selain di...

Sengketa Merek, Mobil BMW Kalah Lawan Baju BMW dari Penjaringan

Mahkamah Agung (MA) tidak menerima Peninjauan Kembali (PK) perusahaan mobil asal Jerman, BMW. Alhasil, Henrywo Yuwijono kini bernapas lega memproduksi merek baju BMW alias Body Man Wear.   Kasus bermula saat perusahaan Beyerische Motoreen Werke (BMW) Aktiengesellschafft menggugat warga Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara, Henrywo. Perusahaan yang bermarkas di Munich, Jerman...

Lois Spanyol gagal batalkan merek lokal

Jakarta. Pemegang lisensi merek dagang Lois di Indonesia PT Intigarmindo Persada gagal membatalkan merek Newlois dan Redlois milik pengusaha lokal Agus salim setelah Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak gugatannya, Selasa (31/5).   "Mengadili, menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya," ungkap ketua majelis hakim Didiek Riyono dalam amar putusannya. Dalam...

Led Zeppelin Menang Gugatan Hak Cipta Lagu Stairway to Heaven

Grup music legendaris Led Zeppelin memenangi kasus gugatan hak cipta yang dilayangkan terhadap anggota grup band rock asal Inggris itu, setelah juri menolak klaim bahwa petikan gitar pembuka Stairway to Heaven diambil dari band asal AS, Spirit.   Keputusan juri, yang menemukan perbedaan substansial antara Stairway to Heaven dan lagu instrumental Spirit Taurus, diambil setelah...

Customer Support

Testimoni[Kirim]

Pesan: *(Harus diisi) Nama: *(Harus diisi) Website:
http://

Berita & Artikel

Undang-Undang Hak Cipta, "Kitab Suci" Yang Belum Sempurna

Oleh: Ichwan Anggawirya Secara garis besar karya seni dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu karya seni terapan (applied art) dan karya seni murni (fine art) yang keduanya masuk dalam...

Official PayPal Seal
</r> : web developed by ridwank.com