WhatsApp
Berita & Artikel

Berita & Artikel

Kumpulan berita dan artikel terbaru terkait HKI, merek, paten, dan pengembangan bisnis.

 
 

Temukan Berita & Artikel

Fengshui Nama Merek: Mitos, Psikologi, atau Strategi Persepsi Bisnis?

14 - May - 2026
Fengshui Nama Merek: Mitos, Psikologi, atau Strategi Persepsi Bisnis?

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H.

Pembahasan mengenai branding pada umumnya identik dengan strategi pemasaran, psikologi konsumen, visual identity, dan positioning pasar. Namun menariknya, di berbagai negara Asia masih banyak pelaku usaha yang mempertimbangkan unsur fengshui ketika menentukan nama merek, logo, nomor bisnis, hingga identitas komersial lainnya.

Bagi sebagian kalangan, fengshui nama merek sering dipandang sekadar sebagai kepercayaan tradisional yang tidak memiliki dasar rasional. Akan tetapi apabila dianalisis lebih jauh dari perspektif psikologi konsumen dan perilaku pasar, fenomena tersebut justru memiliki dimensi persepsi yang cukup relevan untuk dibahas secara ilmiah.

Pada dasarnya, branding bekerja di wilayah persepsi manusia. Konsumen tidak selalu mengambil keputusan hanya berdasarkan pertimbangan rasional mengenai kualitas produk atau harga, melainkan juga dipengaruhi oleh simbol, emosi, asosiasi budaya, sugesti sosial, serta pengalaman psikologis yang tertanam di dalam pikirannya. Dalam konteks inilah fengshui nama merek sering kali bekerja bukan semata-mata sebagai kepercayaan tradisional, melainkan sebagai symbolic perception yang hidup di tengah masyarakat.

Hal tersebut dapat terlihat pada penggunaan angka tertentu dalam praktik bisnis di Asia. Angka 8 misalnya, dalam budaya Tionghoa secara luas diasosiasikan dengan kemakmuran dan keberuntungan karena bunyi pelafalannya memiliki kedekatan fonetik dengan kata yang bermakna “menjadi kaya” atau “berkembang secara finansial”. Di sisi lain, bentuk visual angka 8 yang menyerupai alur tanpa putus turut memperkuat persepsi simbolik mengenai kontinuitas, kelancaran, dan keberlimpahan. Sebaliknya, angka 4 cenderung dihindari karena asosiasi bunyinya menyerupai kata “kematian”.

Secara objektif, angka pada dasarnya hanyalah simbol matematis yang tidak memiliki pengaruh langsung terhadap performa bisnis. Namun dalam praktik pasar, persepsi kolektif masyarakat terhadap simbol tertentu ternyata dapat memengaruhi perilaku ekonomi secara nyata. Berbagai penelitian dalam bidang behavioral economics menunjukkan bahwa manusia memang cenderung memberikan preferensi lebih terhadap simbol yang diasosiasikan dengan makna positif secara budaya maupun emosional.

Berbagai studi perilaku konsumen di Asia menunjukkan bahwa angka “8” kerap diasosiasikan dengan nilai keberuntungan, sehingga memengaruhi keputusan pembelian, harga properti, hingga strategi penetapan harga bisnis.. Dalam beberapa studi pasar properti bahkan ditemukan bahwa unit apartemen atau nomor lantai yang mengandung angka 8 memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding nomor biasa, sedangkan angka 4 relatif kurang diminati karena asosiasi psikologis yang melekat padanya.

Pola serupa juga terlihat dalam praktik pricing di sejumlah bisnis Asia, di mana angka tertentu sengaja digunakan untuk membangun rasa nyaman, harmoni, maupun persepsi keberuntungan di dalam benak konsumen. Artinya, walaupun simbol tersebut tidak memiliki pengaruh fisik secara langsung, makna yang hidup di dalam persepsi masyarakat tetap mampu memengaruhi perilaku pasar secara nyata.

Menariknya, konsep yang relatif serupa sebenarnya juga dapat ditemukan dalam praktik branding Barat modern walaupun tidak disebut sebagai fengshui. Dalam branding kontemporer dikenal berbagai pendekatan seperti sound symbolism, psikologi warna, hingga phonetic branding yang sama-sama mempelajari bagaimana bunyi, ritme, simbol, dan asosiasi tertentu dapat membentuk persepsi konsumen terhadap sebuah merek.

Contohnya dapat terlihat pada nama-nama seperti Rolex, Google, atau Kodak. Nama-nama tersebut tidak dipilih tanpa pertimbangan mendalam, melainkan melalui proses yang memperhatikan ritme bunyi, kemudahan diingat, psychological feel, serta karakter persepsi yang ingin dibangun terhadap identitas merek tersebut.

Karena itu, ketika sebagian pelaku usaha di Asia mempertimbangkan fengshui dalam menentukan nama merek, dalam banyak kasus yang sebenarnya bekerja bukan sekadar keyakinan spiritual, melainkan psychological association yang hidup di dalam budaya masyarakatnya. Selama target pasar masih memberikan makna emosional terhadap simbol tertentu, maka simbol tersebut memang dapat memengaruhi rasa percaya, emotional comfort, maupun persepsi positif terhadap sebuah bisnis.

Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui konsep psikologi yang dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yaitu kondisi ketika keyakinan seseorang terhadap suatu simbol atau identitas pada akhirnya memengaruhi perilakunya sendiri. Dalam konteks bisnis, pengusaha yang merasa nama mereknya “baik”, “harmonis”, atau “membawa keberuntungan” sering kali menjadi lebih percaya diri, lebih optimistis, lebih konsisten, dan lebih berani dalam mengambil keputusan bisnis. Dampaknya, keyakinan tersebut secara tidak langsung dapat memengaruhi performa usahanya secara nyata.

Selain itu, sebagian pendekatan fengshui modern juga memiliki irisan dengan berbagai konsep ilmiah seperti environmental psychology, psikologi warna, perilaku konsumen, hingga cognitive fluency, yaitu kondisi ketika otak manusia cenderung lebih mudah menerima sesuatu yang terasa harmonis, mudah diingat, nyaman diucapkan, dan menyenangkan secara visual maupun emosional.

Melalui perspektif tersebut, fengshui nama merek tampaknya lebih tepat dipahami sebagai perpaduan antara budaya, persepsi kolektif, psikologi simbol, dan emotional association yang hidup di dalam masyarakat. Sama halnya dalam praktik branding modern, manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk memberi makna emosional terhadap bunyi, warna, simbol, maupun identitas tertentu.

Dari sudut pandang itu pula dapat dipahami mengapa hingga saat ini masih banyak pelaku usaha modern, termasuk perusahaan-perusahaan besar di Asia, tetap mempertimbangkan harmoni nama, angka, warna, maupun identitas visual tertentu dalam strategi bisnisnya. Hal tersebut terjadi bukan semata-mata karena faktor kepercayaan budaya, melainkan karena dalam praktik bisnis modern, persepsi kolektif masyarakat memang dapat memengaruhi cara pasar membangun rasa percaya terhadap sebuah merek.

Pada level tertentu, kekuatan sebuah merek sering kali tidak hanya lahir dari kualitas produknya, tetapi juga dari makna psikologis yang berhasil tertanam di dalam persepsi masyarakat.

IndoTrademark IP Law & Brand Strategy

dibaca: 198 kali

TAG :

pendaftaran merekmendaftarkan merekcek merekdaftar merekpengacara merekbranding strategy
 

Berita & Artikel Terkait

Berita & Artikel Lainnya

1 2 3 4 5 »
 

Mediasi Pada Pidana Hak Cipta, Menguntungkan Atau Merugikan Korban?

Oleh: Ichwan Anggawirya Hak cipta merupakan hak kekayaan yang bersifat immateriil dan merupakan hak kebendaan. Salah satu sifat atau asas yang melekat pada hak kebendaan adalah asas droit de suite, asas hak mengikuti bendanya. Hak untuk menuntut akan mengikuti benda tersebut secara terus-menerus di tangan siapapun benda itu berada. Perlindungan hak cipta sebagai hak kebendaan...

Pertarungan Dua Mawar Akhirnya Dimenangkan Oleh Wardah

Wardah sebagai pencetus dan penemu pertama formulasi cairan pengharum cucian merek Mawar Super Loundry kini dapat bernafas lega, gugatan pembatalan merek yang telah dimenangkan di tingkat Pengadilan Niaga kini telah inkrah dengan adanya keputusan Mahkamah Agung Nomor 161 K/Pdt.Sus-HKI/2019 yang dalam keputusannya menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi atau yang sebelumnya sebagai pihak...

Ichwan Anggawirya: Audisi Beasiswa Bulutangkis PB Djarum Tidak Mengeksploitasi Anak

Audisi pencarian bakat Bulutangkis yang dilakukan oleh Persatuan Bulutangkis (PB) Djarum sempat menjadi polemik karena adanya komentar yang menyatakan PB Djarum mengeksploitasi anak dengan UU No 35 Tahun 2014.   Praktisi dan pakar HAKI Magister Ilmu Hukum Universitas Bung Karno, Ichwan Anggawirya di forum grup diskusi senin dikampus Magister Ilmu Hukum Universitas Bung Karno,...

Sengketa Merek Mawar Super Laundry

Siti Wardah, pengusaha cairan pembersih untuk laundry pakaian mengajukan gugatan pembatalan merek 'MAWAR SUPER LAUNDRY'. Gugatan itu didaftarkan di Pengadilan Niaga Jakarta. "Klien saya ajukan gugatan pembatalan karena pendaftaran merek dilakukan dengan itikad tidak baik dan tidak jujur," kata kuasa hukum penggugat, Ichwan Anggawirya kepada Gatra.com di Jakarta, Sabtu,...

80 Tahun Sengketa Hak Cipta Lagu "Happy Birthday to You" Berakhir

Los Angeles - Lagu “Happy Birthday to You” mungkin sudah biasa didengar dalam pesta-pesta ulang tahun. Namun, ternyata, di balik itu, terdapat kesangkutmarutan siapa yang berhak memegang hak cipta. Pencipta melodi Mildred Hill bersaudara kah? Yang pertama kali membuat melodi lagu tersebut dengan judul awal 'Good Morning to All' untuk anak-anak TK pada tahun 1889, atau yang...

Sengketa Merek, Perusahaan Kereta Dorong Bayi Jerman Gugat Cybex Lokal

Produsen kereta dorong bayi asal Jerman, Cybex gmbH kaget pendaftaran merek di Indonesia tidak disetujui Kementerian Hukum dan HAM karena sudah ada stroller dengan merek yang mirip dengan merek Cybex. Atas hal itu, langkah hukum pun diambil.   Kasus bermula saat Cybex gmbH mengajukan permohonan pendaftaran merek ke Direktorat Merek Kemenkum HAM pada 19 Juni 2015. Selain di...

Sengketa Merek, Mobil BMW Kalah Lawan Baju BMW dari Penjaringan

Mahkamah Agung (MA) tidak menerima Peninjauan Kembali (PK) perusahaan mobil asal Jerman, BMW. Alhasil, Henrywo Yuwijono kini bernapas lega memproduksi merek baju BMW alias Body Man Wear.   Kasus bermula saat perusahaan Beyerische Motoreen Werke (BMW) Aktiengesellschafft menggugat warga Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara, Henrywo. Perusahaan yang bermarkas di Munich, Jerman...

Lois Spanyol gagal batalkan merek lokal

Jakarta. Pemegang lisensi merek dagang Lois di Indonesia PT Intigarmindo Persada gagal membatalkan merek Newlois dan Redlois milik pengusaha lokal Agus salim setelah Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak gugatannya, Selasa (31/5).   "Mengadili, menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya," ungkap ketua majelis hakim Didiek Riyono dalam amar putusannya. Dalam...

Led Zeppelin Menang Gugatan Hak Cipta Lagu Stairway to Heaven

Grup music legendaris Led Zeppelin memenangi kasus gugatan hak cipta yang dilayangkan terhadap anggota grup band rock asal Inggris itu, setelah juri menolak klaim bahwa petikan gitar pembuka Stairway to Heaven diambil dari band asal AS, Spirit.   Keputusan juri, yang menemukan perbedaan substansial antara Stairway to Heaven dan lagu instrumental Spirit Taurus, diambil setelah...

Dituduh Jiplak "Stairway to Heaven", Led Zeppelin Jalani Sidang di AS

LOS ANGELES, Dua personel grup musik legendaris Led Zeppelin, Jimmy Page dan Robert Plant, akan menghadiri sidang yang digelar pada Selasa (13/6/2016), terkait kasus tudingan "pencurian" lagu ternama, "Stairway to Heaven", yang dilontarkan sebuah grup musik asal AS.   Spirit, grup musik psychedelic asal Los Angeles yang eksis pada masa yang sama dengan Led...

Butuh Konsultasi Gratis?

Tim expert kami siap membantu Anda memilih layanan yang tepat untuk kebutuhan bisnis