Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H.
Pembahasan mengenai branding pada umumnya identik dengan strategi pemasaran, psikologi konsumen, visual identity, dan positioning pasar. Namun menariknya, di berbagai negara Asia masih banyak pelaku usaha yang mempertimbangkan unsur fengshui ketika menentukan nama merek, logo, nomor bisnis, hingga identitas komersial lainnya.
Bagi sebagian kalangan, fengshui nama merek sering dipandang sekadar sebagai kepercayaan tradisional yang tidak memiliki dasar rasional. Akan tetapi apabila dianalisis lebih jauh dari perspektif psikologi konsumen dan perilaku pasar, fenomena tersebut justru memiliki dimensi persepsi yang cukup relevan untuk dibahas secara ilmiah.
Pada dasarnya, branding bekerja di wilayah persepsi manusia. Konsumen tidak selalu mengambil keputusan hanya berdasarkan pertimbangan rasional mengenai kualitas produk atau harga, melainkan juga dipengaruhi oleh simbol, emosi, asosiasi budaya, sugesti sosial, serta pengalaman psikologis yang tertanam di dalam pikirannya. Dalam konteks inilah fengshui nama merek sering kali bekerja bukan semata-mata sebagai kepercayaan tradisional, melainkan sebagai symbolic perception yang hidup di tengah masyarakat.
Hal tersebut dapat terlihat pada penggunaan angka tertentu dalam praktik bisnis di Asia. Angka 8 misalnya, dalam budaya Tionghoa secara luas diasosiasikan dengan kemakmuran dan keberuntungan karena bunyi pelafalannya memiliki kedekatan fonetik dengan kata yang bermakna “menjadi kaya” atau “berkembang secara finansial”. Di sisi lain, bentuk visual angka 8 yang menyerupai alur tanpa putus turut memperkuat persepsi simbolik mengenai kontinuitas, kelancaran, dan keberlimpahan. Sebaliknya, angka 4 cenderung dihindari karena asosiasi bunyinya menyerupai kata “kematian”.
Secara objektif, angka pada dasarnya hanyalah simbol matematis yang tidak memiliki pengaruh langsung terhadap performa bisnis. Namun dalam praktik pasar, persepsi kolektif masyarakat terhadap simbol tertentu ternyata dapat memengaruhi perilaku ekonomi secara nyata. Berbagai penelitian dalam bidang behavioral economics menunjukkan bahwa manusia memang cenderung memberikan preferensi lebih terhadap simbol yang diasosiasikan dengan makna positif secara budaya maupun emosional.
Berbagai studi perilaku konsumen di Asia menunjukkan bahwa angka “8” kerap diasosiasikan dengan nilai keberuntungan, sehingga memengaruhi keputusan pembelian, harga properti, hingga strategi penetapan harga bisnis.. Dalam beberapa studi pasar properti bahkan ditemukan bahwa unit apartemen atau nomor lantai yang mengandung angka 8 memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding nomor biasa, sedangkan angka 4 relatif kurang diminati karena asosiasi psikologis yang melekat padanya.
Pola serupa juga terlihat dalam praktik pricing di sejumlah bisnis Asia, di mana angka tertentu sengaja digunakan untuk membangun rasa nyaman, harmoni, maupun persepsi keberuntungan di dalam benak konsumen. Artinya, walaupun simbol tersebut tidak memiliki pengaruh fisik secara langsung, makna yang hidup di dalam persepsi masyarakat tetap mampu memengaruhi perilaku pasar secara nyata.
Menariknya, konsep yang relatif serupa sebenarnya juga dapat ditemukan dalam praktik branding Barat modern walaupun tidak disebut sebagai fengshui. Dalam branding kontemporer dikenal berbagai pendekatan seperti sound symbolism, psikologi warna, hingga phonetic branding yang sama-sama mempelajari bagaimana bunyi, ritme, simbol, dan asosiasi tertentu dapat membentuk persepsi konsumen terhadap sebuah merek.
Contohnya dapat terlihat pada nama-nama seperti Rolex, Google, atau Kodak. Nama-nama tersebut tidak dipilih tanpa pertimbangan mendalam, melainkan melalui proses yang memperhatikan ritme bunyi, kemudahan diingat, psychological feel, serta karakter persepsi yang ingin dibangun terhadap identitas merek tersebut.
Karena itu, ketika sebagian pelaku usaha di Asia mempertimbangkan fengshui dalam menentukan nama merek, dalam banyak kasus yang sebenarnya bekerja bukan sekadar keyakinan spiritual, melainkan psychological association yang hidup di dalam budaya masyarakatnya. Selama target pasar masih memberikan makna emosional terhadap simbol tertentu, maka simbol tersebut memang dapat memengaruhi rasa percaya, emotional comfort, maupun persepsi positif terhadap sebuah bisnis.
Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui konsep psikologi yang dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yaitu kondisi ketika keyakinan seseorang terhadap suatu simbol atau identitas pada akhirnya memengaruhi perilakunya sendiri. Dalam konteks bisnis, pengusaha yang merasa nama mereknya “baik”, “harmonis”, atau “membawa keberuntungan” sering kali menjadi lebih percaya diri, lebih optimistis, lebih konsisten, dan lebih berani dalam mengambil keputusan bisnis. Dampaknya, keyakinan tersebut secara tidak langsung dapat memengaruhi performa usahanya secara nyata.
Selain itu, sebagian pendekatan fengshui modern juga memiliki irisan dengan berbagai konsep ilmiah seperti environmental psychology, psikologi warna, perilaku konsumen, hingga cognitive fluency, yaitu kondisi ketika otak manusia cenderung lebih mudah menerima sesuatu yang terasa harmonis, mudah diingat, nyaman diucapkan, dan menyenangkan secara visual maupun emosional.
Melalui perspektif tersebut, fengshui nama merek tampaknya lebih tepat dipahami sebagai perpaduan antara budaya, persepsi kolektif, psikologi simbol, dan emotional association yang hidup di dalam masyarakat. Sama halnya dalam praktik branding modern, manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk memberi makna emosional terhadap bunyi, warna, simbol, maupun identitas tertentu.
Dari sudut pandang itu pula dapat dipahami mengapa hingga saat ini masih banyak pelaku usaha modern, termasuk perusahaan-perusahaan besar di Asia, tetap mempertimbangkan harmoni nama, angka, warna, maupun identitas visual tertentu dalam strategi bisnisnya. Hal tersebut terjadi bukan semata-mata karena faktor kepercayaan budaya, melainkan karena dalam praktik bisnis modern, persepsi kolektif masyarakat memang dapat memengaruhi cara pasar membangun rasa percaya terhadap sebuah merek.
Pada level tertentu, kekuatan sebuah merek sering kali tidak hanya lahir dari kualitas produknya, tetapi juga dari makna psikologis yang berhasil tertanam di dalam persepsi masyarakat.
IndoTrademark IP Law & Brand Strategy