WhatsApp
Berita & Artikel

Berita & Artikel

Kumpulan berita dan artikel terbaru terkait HKI, merek, paten, dan pengembangan bisnis.

 
 

Temukan Berita & Artikel

Berebut Ayam Lepaas Di Mahkamah Agung

28 - December - 2014

Jakarta - Anda pernah merasakan enaknya ayam goreng di gerai warung Ayam Lepaas? Siapa nyana, gerai yang pernah mendapat penghargaan Franchise Award 2012 itu menyimpan sengketa perebutan merek hingga bermuara ke pengadilan, bahkan hingga Mahkamah Agung (MA).

Kasus bermula saat Ahmad Syaiful Bachri berkenalan dengan Suparno di Aceh pada 2009. Saat itu Suparno yang juga memiliki bisnis ayam penyet sedang mengalami kerugian. Atas masalah itu, Ahmad Syaiful Bachri memberikan bantuan Rp 50 juta dan binis ayam penyet itu kembali bisa bernafas. Lalu keduanya sepakat membangun bisnis warung ayam penyet dan sebagai tanda rebranding, mereka memberi nama warungnya Ayam Lepaas. Launching gerai pertama bertempat di Lampriet, Aceh pada 2009.

Setahun kemudian, Ahmad Syaiful Bachri membuka gerai Ayam Lepaas di Malang. Delapan bulan setelahnya, Ahmad Syaiful Bachri berkongsi dengan Ade Mukhtar membuka gerai Ayam Lepaas di 9Walk, Bintaro. Lantas disusul dengan membuka gerai Ayam Lepaas di 5 tempat di Aceh.

Setelah bisnisnya mapan, Ayam Lepaas mulai menggoyang lidah warga Jakarta pada 2011 yaitu dengan membuka gerai di Kalimalang, Rawamangun, Kelapa Gading, Cililitan, Pondok Gede dan Cakung. Selain itu masyarakat di sekitar Jakarta juga bisa mencicipi Ayam Lepaas di Kranji, Bintaro Utara dan Cimanggu.

Dengan besarnya nama Ayam Lepaaas maka Suparno dan Ahmad Syaiful Bachri membuat PT Rozzo Dewe Jayakarta pada Maret 2011. Bisnis Ayam Lepaas semakin besar dengan membuka gerai di Palembang dan Malang untuk gerai kedua kalinya. Memasuki tahun 2012, Ayam Lepaas semakin memanjakan lidah masyarakat dengan gerai-gerai baru yang dibuka di berbagai tempat seperti di Surabaya sebanyak 3 titik dan di Jalan Kisamaun Tangerang.

Belakangan konflik muncul. Suparno mendaftarkan merek Ayam Lepaas ke Dirjen HKI pada 2013 secara sepihak tanpa diikutsertakannya Syaiful. Atas hal itu, Syaiful menggugat rekan bisnisnya itu ke Pengadilan Niaga Medan. Gayung bersambut yaitu pada 17 Juli 2013, majelis hakim memerintahkan Dirjen HKI mencabut merek Ayam Lepaas dari daftar sebagaiamana yang didaftarkan Suparno.

Atas hal itu, Suparno tidak terima dan mengajukan kasasi. Apa kata MA?

"Menolak permohonan kasasi Suparno. Menyatakan tergugat adalah pemohon yang beritikad tidak baik. Membatalkan tergugat pendaftaran merek Ayam Lepaas," putus majelis kasasi sebagaiaman dilansir website MA, Minggu (9/11/2014).

Duduk sebagai ketua majelis Vallerina JL Kriekhoff dengan anggota Abdurrahman dan Sultoni Mohdally. Menurut ketiga hakim agung itu, pendaftaran merek tanpa sepengetahuan Ahmad Syaiful Bachri, padahal Ahmad Syaiful Bachri adalah teman bisnis Suparno yang merintis dan bekerjasama mendirikan warung makan Ayam Lepaas sejak awal, namun akhirnya Suparno meninggalkan Ahmad Syaiful Bachri.

"Menghukum pemohon kasasi/tergugat untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi sebesar Rp 5 juta," putus majelis pada 29 Januari lalu.

"Menolak permohonan kasasi Suparno. Menyatakan tergugat adalah pemohon yang beritikad tidak baik. Membatalkan tergugat pendaftaran merek Ayam Lepaas," putus majelis kasasi sebagaiaman dilansir website MA, Minggu (9/11/2014).

Duduk sebagai ketua majelis Vallerina JL Kriekhoff dengan anggota Abdurrahman dan Sultoni Mohdally. Menurut ketiga hakim agung itu, pendaftaran merek tanpa sepengetahuan Ahmad Syaiful Bachri, padahal Ahmad Syaiful Bachri adalah teman bisnis Suparno yang merintis dan bekerjasama mendirikan warung makan Ayam Lepaas sejak awal, namun akhirnya Suparno meninggalkan Ahmad Syaiful Bachri.

"Menghukum pemohon kasasi/tergugat untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi sebesar Rp 5 juta," putus majelis pada 29 Januari lalu.

Sumber: detik.com

 

dibaca: 13557 kali

TAG :

ayam lepaasayam lepas
 

Berita & Artikel Lainnya

1 2 3 4 5 6 7 »
 

Merek Viral Bukan Kebetulan: Strategi Entry Branding dalam Menciptakan Ledakan Pasar

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa sebuah merek menjadi viral semata-mata karena keberuntungan, momentum media sosial, atau tren sesaat. Padahal dalam praktik branding kontemporer, viralitas sering kali merupakan hasil dari strategi persepsi yang dirancang secara sadar sejak awal. Sebagian merek bahkan memang dibentuk untuk menjadi bahan...

Merek Sebagai Agama Modern: Ketika Brand Berubah Menjadi Sistem Kepercayaan Sosial

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H. Di dalam teori bisnis klasik, merek umumnya dipahami sebagai identitas komersial yang berfungsi membedakan barang atau jasa milik satu pelaku usaha dengan pelaku usaha lainnya. Namun dalam praktik branding kontemporer, sebagian merek besar dunia telah berkembang jauh melampaui fungsi identifikasi produk semata. Pada level tertentu, merek tidak...

Strategi Nama Merek yang Sengaja Dibuat “Salah” tetapi Justru Kuat

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H. Dalam praktik branding kontemporer, terdapat fenomena menarik di mana sebagian perusahaan justru membangun identitas mereknya melalui kata yang secara linguistik dianggap tidak baku, tidak lazim, atau tampak seperti penyimpangan dari ejaan umum yang dikenal masyarakat. Walaupun sering dianggap sebagai bentuk “kesalahan” penulisan,...

Fengshui Nama Merek: Mitos, Psikologi, atau Strategi Persepsi Bisnis?

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H. Pembahasan mengenai branding pada umumnya identik dengan strategi pemasaran, psikologi konsumen, visual identity, dan positioning pasar. Namun menariknya, di berbagai negara Asia masih banyak pelaku usaha yang mempertimbangkan unsur fengshui ketika menentukan nama merek, logo, nomor bisnis, hingga identitas komersial lainnya. Bagi sebagian...

Strategi Membangun Merek Unicorn: Dominasi Aset Intelektual dalam Bisnis Modern

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H. Perubahan struktur ekonomi global telah menggeser cara pasar menilai sebuah perusahaan. Jika pada masa lalu kekuatan bisnis identik dengan kepemilikan aset fisik, maka saat ini nilai terbesar justru sering lahir dari kemampuan membangun dominasi intelektual, psikologis, dan ekosistem perilaku di tengah masyarakat. Fenomena tersebut kemudian...

Mengapa Permohonan Merek Tetap Berisiko Ditolak Walaupun Belum Terdaftar Oleh Pihak Lain

Masih banyak pelaku usaha beranggapan bahwa suatu merek pasti aman didaftarkan selama nama tersebut belum digunakan atau belum terdaftar oleh pihak lain. Padahal dalam praktik hukum merek di Indonesia, kondisi demikian belum tentu menjamin bahwa permohonan akan diterima oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Sistem hukum merek di Indonesia tidak semata-mata menilai apakah...

KOPI DARI HATI: Konsistensi DNA Emosional dalam Strategi Branding

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H. Di tengah persaingan industri kopi dan café yang semakin padat, banyak merek berlomba menampilkan kualitas biji kopi, teknik roasting, origin, hingga desain interior yang estetik. Namun dalam praktik branding, kekuatan sebuah merek sering kali tidak hanya lahir dari...

AQUAPROOF dan Strategi Suggestive Branding: Ketika Nama Merek Menjawab Rasa Khawatir Konsumen

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H. Tidak semua merek dibangun untuk menciptakan prestige, simbol gaya hidup, atau kesan eksklusif semata. Dalam banyak kategori produk problem solver, kekuatan sebuah brand justru lahir dari kemampuannya menyentuh titik paling sensitif dalam psikologi konsumen: rasa khawatir,...

Merek Kata vs Merek Angka: Strategi Branding, Kekuatan Simbolik, dan Perlindungan Hukumnya

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H. Dalam konsep branding modern, pemilihan nama merek bukan lagi sekadar persoalan kreativitas, melainkan bagian dari strategi membangun persepsi, diferensiasi, dan positioning bisnis jangka panjang. Sebuah nama dapat menciptakan kesan tertentu bahkan sebelum publik mengenal produk atau layanan yang ditawarkan. Salah satu pendekatan yang menarik...

EATLAH: Branding Kasual yang Berhasil Membangun Identitas Kuat

Di era media sosial dan budaya konsumsi cepat seperti sekarang, brand kuliner terus bermunculan dengan berbagai konsep kreatif. Namun, hanya sedikit yang benar-benar mampu membangun identitas yang kuat sekaligus terasa dekat dengan konsumennya. Salah satu contoh menarik dalam perkembangan brand kuliner modern di Indonesia adalah Eatlah. Didirikan pada tahun 2016 oleh Michael Chrisyanto...

Butuh Konsultasi Gratis?

Tim expert kami siap membantu Anda memilih layanan yang tepat untuk kebutuhan bisnis